Kamis, 16 April 2015

persahabatan lawan jenis ...???? sama kah dengan friendzone :)

ers"Persahabatan Lawan Jenis"
Ini pernah gue bahas di Twitter, tapi gue rasa timeline nggak cukup untuk gue menjelaskan dengan lebih sotoy tentang persahabatan lawan jenis menurut kacamata seorang Zarry Hendrik. You know kan di Twitter ada keterbatasan karakter. Nah mumpung gue lagi in the mood ngetik, gue sharing lagi nih. Jadi begini….. *pletekin jari jemari*
Langsung aja, gue adalah orang yang nggak yakin persahabatan lawan jenis itu benar-benar ada dan bekerja sesuai dengan nilai-nilai persahabatan yang “semestinya”, bila tanpa pengalaman asmara sebelumnya. Ya, gue yakin ada yang nggak setuju dengan pendapat gue ini. Yakali kita bisa mencintai sahabat kita sendiri? Apa iya kita harus jatuh cinta kepada sahabat kita dulu, barulah kita bisa menjadi seorang sahabat? Well..
Yang namanya sahabat, di pikiran gue itu merupakan posisi yang istimewa. Apabila ada seseorang yang memanggil kita sahabat, itu berarti kita mendapatkan tempat yang tidak biasa di dalam hidup orang itu. Gue adalah salah satu orang yang beruntung, di mana hari-hari gue diwarnai oleh keberadaan para sahabat. Mereka adalah orang yang menyayangi gue lebih dari seorang saudara, sungguh sejuta kata tak pernah cukup tuk menggambarkan arti sahabat. Intinya, persahabatan adalah sejenis dunia yang di dalamnya kita merasa berharga, dijaga, diterima dan dilengkapi. Persahabatan adalah bahagia yang tidak bertembok. Siapapun yang berada di dalamnya akan melihat dan memperlihatkan diri mereka yang sebenarnya, dengan tanpa terhalang perasaan cinta atau ketertarikan secara seksual terhadap sahabat kita sendiri. Itulah sebenar-benarnya yang gue berikan dan dapatkan ketika gue menempatkan diri gue di dalam persahabatan. Gue merasakan itu. Namun adakah gue merasakan diri gue tinggal di dalam dunia yang seterbuka itu bersama dengan lawan jenis gue, yaitu perempuan? Bisa dikatakan belum, bisa dikatakan sudah. Dari beberapa pengalaman yang udah pernah gue alami, ketika gue memposisikan diri gue lebih dekat dengan seorang lawan jenis, yang terjadi adalah selalu timbul perasaan lebih. Kalo enggak si cewek yang ada rasa sama gue, ya gue yang ada rasa sama dia. Atau timbul perasaan lebih di keduanya? Pernah juga. Kita sempat pacaran beberapa bulan, kemudian putus. Dan apakah putus hubungan itu berarti putus pula persahabatan? Tidak. Bagi gue, putus itu artinya kembali berteman, kembali bersahabat. Bukankah memang sebetulnya begitu? Gue nggak pernah mengalami rasa trauma di dalam mencintai teman sendiri. Teman adalah jalan terbaik untuk kita bisa saling memahami satu sama lain. Suatu hari gue berharap, wanita yang gue nikahi adalah seorang kekasih hati yang juga bisa menempatkan dirinya sebagai sahabat. ^^
Kembali ke laptop. Gue tidak mengatakan persahabatan lawan jenis itu mustahil, tapi dari yang udah-udah kayaknya kita semua tahu, banyak terjadi kejanggalan yang indah. Kenapa gue bilanv indah? Ya memang indah! Ada rasa lebih dari sekadar peduli, ada rindu yang lebih dari sekadar ingin bertemu. Ada yang tersembunyi, tidak terungkapkan, terpendam di kedalaman hati, cinta. Dari semua pengalaman gue atau cerita-cerita orang yang gue denger, rata-rata ya begitu. Anak gaul biasa menyebutnya dengan istilah friendzone.
Friendzone itu gimana ya… ya udah pada tau kan? Kalo gue pribadi sih menilai, friendzone merupakan suatu ruang yang nyaman namun terkunci untuk sebuah cinta dapat dinyatakan. Mengapa seseorang bisa terjebak friendzone? Pada intinya sih ya ada ketakutan yang dipelihara. Ada rasa takut untuk mengambil risiko, rasa takut kehilangan, rasa takut akan hal-hal baru, rasa takut mengakui perasaan, dan termasuk juga rasa takut untuk menunjukkan ketertarikan seksual. Ketakutan-ketakutan itu bikin gue heran sebenarnya. Kan persahabatan adalah ruang yang hampir tidak ber-rahasia. Kepada seorang sahabat, kita mendapatkan keuntungan untuk senyamannya menjadi diri sendiri, tampil apa adanya. Di hadapan seorang sahabat, kita tidak perlu repot-repot menjadi orang lain untuk diterima, bahkan seorang sahabat adalah seseorang yang menilai kekurangan kita itu sebagai bagian penting di dalam hidupnya. Persahabatan bukanlah ruang yang kedap cinta. Persahabatan justru lahir karena kasih. Karena suatu kesamaan kecil yang dipandang luarbiasa, dan karena suatu perbedaan besar yang dianggap bukan suatu permasalahan. Sahabat itu pelajaran hidup, bahwa kita butuh untuk dibutuhkan. Pertanyaannya; bila sahabat kita adalah lawan jenis kita, seberapa yakin kita bahwa tidak ada ketertarikan lebih, atau hasrat untuk saling membahagiakan sebagai pasangan? Pernahkah di antara kita ada yang berpikir seperti itu? Mungkinkah lelaki dan perempuan yang menganggap diri mereka bersahabat bisa menikah di kemudian hari?
Sekali lagi, di sini gue tidak mengatakan bahwa persahabatan lawan jenis itu tidak mungkin terwujud, atau akan selalu berakhir kalau tidak di pelaminan, ya di permusuhan. Gue beritahu, lelaki dan perempuan hanya baru asik dikatakan bersahabat setelah mengalami dua hal, yaitu pengakuan perasaan dan pengalaman asmara. Tanpa mengalami dua hal itu, di mata gue, lelaki dan perempuan belum dapat dikatakan sahabat, melainkan bisa jadi pedekate terselubung. Gue serius, tanpa melewati dua hal itu, persahabatan hanyalah tempat persembunyian cinta belaka. Atau janganlah kita menyepelekan arti sahabat, yaitu dengan mudahnya menganggap orang lain sahabat, orang-orang yang baru hanya kita pandang dari satu atau dua sisi, pribadi-pribadi yang sebetulnya belum kita anugerahkan rasa percaya.
Di dalam persahabatan lawan jenis, yang udah-udah, pasti salah satu ada yang memendam perasaan. Atau adakah keduanya memiliki gairah untuk menyelami diri sendiri dan menemukan suatu rasa yang telah lama terabaikan? Atau jangan-jangan, dua-duanya saling cinta, namun keduanya sama-sama tidak merasa penting untuk mewujudkan cinta. Pernahkah ada di antara lo yang mengalami pengalaman asmara dengan seorang sahabat? Pernahkah lo mengakui perasaan kepada sahabat lo? Pernahkah lo mendengar pengakuan perasaan dari sahabat lo? Atau pernahkah lo terpikir untuk membahas ini? Jangan bilang, itu semua tidak pernah terjadi, dan terungkapkan! Bila benar adanya itu semua belum lo alami dan lewati, maka janganlah bilang lo bersahabat dengan lawan jenis lo. Cukup katakanlah saja dia teman dekat, teman seru-seruan, teman bercerita, teman pulang kerja, atau maaf, teman bercinta. Sekali lagi gue ingatkan, bahwa sahabat melebihi itu semua. Dengan ini gue sarankan, milikilah keberanian untuk menyampaikan pengakuan, atau setidaknya bertanya. Bukankah sahabat adalah ia yang tahu diri kita luar dan dalam? Bukankah sahabat adalah ia yang paling ingin mengerti perasaan kita? Bukankah kita tidak perlu merasa takut untuk jatuh cinta kepada sahabat kita sendiri? Bukankah menjadi seorang sahabat sekaligus kekasih adalah keberuntungan? Silakan direnungkan.
Ya gue kira itu aja yang bisa gue bagikan dari menjadi seorang lelaki yang sotoy. Buat kalian yang dari membaca artikel ini mendapatkan pencerahan untuk menantang sahabatnya sendiri berjalan menuju hari yang bahagia, misalnya pernikahan? Baiklah, menikahlah! 

Okelah kalo begitu, terima kasih buat yang menyempatkan diri membaca. Terima kasih atas waktunya. Sampai bertemu di tulisan gue yang lain, kesotoyan gue yang selanjutnya. Salam pencinta kata! Mmmuaahhhh!!



by zarry hendrik 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar