ers"Persahabatan Lawan Jenis"
Ini pernah gue bahas di Twitter, tapi gue rasa timeline nggak cukup
untuk gue menjelaskan dengan lebih sotoy tentang persahabatan lawan jenis
menurut kacamata seorang Zarry Hendrik. You know kan di Twitter ada
keterbatasan karakter. Nah mumpung gue lagi in the mood ngetik, gue sharing
lagi nih. Jadi begini….. *pletekin jari jemari*
Langsung aja, gue adalah orang yang nggak yakin persahabatan lawan
jenis itu benar-benar ada dan bekerja sesuai dengan nilai-nilai persahabatan yang
“semestinya”, bila tanpa pengalaman asmara sebelumnya. Ya, gue yakin ada yang
nggak setuju dengan pendapat gue ini. Yakali kita bisa mencintai sahabat kita
sendiri? Apa iya kita harus jatuh cinta kepada sahabat kita dulu, barulah kita
bisa menjadi seorang sahabat? Well..
Yang namanya sahabat, di pikiran gue itu merupakan posisi yang istimewa.
Apabila ada seseorang yang memanggil kita sahabat, itu berarti kita mendapatkan
tempat yang tidak biasa di dalam hidup orang itu. Gue adalah salah satu orang
yang beruntung, di mana hari-hari gue diwarnai oleh keberadaan para sahabat.
Mereka adalah orang yang menyayangi gue lebih dari seorang saudara, sungguh
sejuta kata tak pernah cukup tuk menggambarkan arti sahabat. Intinya,
persahabatan adalah sejenis dunia yang di dalamnya kita merasa berharga,
dijaga, diterima dan dilengkapi. Persahabatan adalah bahagia yang tidak
bertembok. Siapapun yang berada di dalamnya akan melihat dan memperlihatkan
diri mereka yang sebenarnya, dengan tanpa terhalang perasaan cinta atau ketertarikan
secara seksual terhadap sahabat kita sendiri. Itulah sebenar-benarnya yang gue
berikan dan dapatkan ketika gue menempatkan diri gue di dalam persahabatan. Gue
merasakan itu. Namun adakah gue merasakan diri gue tinggal di dalam dunia yang
seterbuka itu bersama dengan lawan jenis gue, yaitu perempuan? Bisa dikatakan
belum, bisa dikatakan sudah. Dari beberapa pengalaman yang udah pernah gue
alami, ketika gue memposisikan diri gue lebih dekat dengan seorang lawan jenis,
yang terjadi adalah selalu timbul perasaan lebih. Kalo enggak si cewek yang ada
rasa sama gue, ya gue yang ada rasa sama dia. Atau timbul perasaan lebih di
keduanya? Pernah juga. Kita sempat pacaran beberapa bulan, kemudian putus. Dan
apakah putus hubungan itu berarti putus pula persahabatan? Tidak. Bagi gue,
putus itu artinya kembali berteman, kembali bersahabat. Bukankah memang
sebetulnya begitu? Gue nggak pernah mengalami rasa trauma di dalam mencintai
teman sendiri. Teman adalah jalan terbaik untuk kita bisa saling memahami satu
sama lain. Suatu hari gue berharap, wanita yang gue nikahi adalah seorang
kekasih hati yang juga bisa menempatkan dirinya sebagai sahabat. ^^
Kembali ke laptop. Gue tidak mengatakan persahabatan lawan jenis
itu mustahil, tapi dari yang udah-udah kayaknya kita semua tahu, banyak terjadi
kejanggalan yang indah. Kenapa gue bilanv indah? Ya memang indah! Ada rasa
lebih dari sekadar peduli, ada rindu yang lebih dari sekadar ingin bertemu. Ada
yang tersembunyi, tidak terungkapkan, terpendam di kedalaman hati, cinta. Dari
semua pengalaman gue atau cerita-cerita orang yang gue denger, rata-rata ya
begitu. Anak gaul biasa menyebutnya dengan istilah friendzone.
Friendzone itu gimana ya… ya udah pada tau kan? Kalo gue pribadi
sih menilai, friendzone merupakan suatu ruang yang nyaman namun terkunci untuk
sebuah cinta dapat dinyatakan. Mengapa seseorang bisa terjebak friendzone? Pada
intinya sih ya ada ketakutan yang dipelihara. Ada rasa takut untuk mengambil
risiko, rasa takut kehilangan, rasa takut akan hal-hal baru, rasa takut
mengakui perasaan, dan termasuk juga rasa takut untuk menunjukkan ketertarikan
seksual. Ketakutan-ketakutan itu bikin gue heran sebenarnya. Kan persahabatan
adalah ruang yang hampir tidak ber-rahasia. Kepada seorang sahabat, kita
mendapatkan keuntungan untuk senyamannya menjadi diri sendiri, tampil apa
adanya. Di hadapan seorang sahabat, kita tidak perlu repot-repot menjadi orang
lain untuk diterima, bahkan seorang sahabat adalah seseorang yang menilai
kekurangan kita itu sebagai bagian penting di dalam hidupnya. Persahabatan
bukanlah ruang yang kedap cinta. Persahabatan justru lahir karena kasih. Karena
suatu kesamaan kecil yang dipandang luarbiasa, dan karena suatu perbedaan besar
yang dianggap bukan suatu permasalahan. Sahabat itu pelajaran hidup, bahwa kita
butuh untuk dibutuhkan. Pertanyaannya; bila sahabat kita adalah lawan jenis
kita, seberapa yakin kita bahwa tidak ada ketertarikan lebih, atau hasrat untuk
saling membahagiakan sebagai pasangan? Pernahkah di antara kita ada yang
berpikir seperti itu? Mungkinkah lelaki dan perempuan yang menganggap diri
mereka bersahabat bisa menikah di kemudian hari?
Sekali lagi, di sini gue tidak mengatakan bahwa persahabatan lawan
jenis itu tidak mungkin terwujud, atau akan selalu berakhir kalau tidak di
pelaminan, ya di permusuhan. Gue beritahu, lelaki dan perempuan hanya baru asik
dikatakan bersahabat setelah mengalami dua hal, yaitu pengakuan perasaan dan
pengalaman asmara. Tanpa mengalami dua hal itu, di mata gue, lelaki dan
perempuan belum dapat dikatakan sahabat, melainkan bisa jadi pedekate
terselubung. Gue serius, tanpa melewati dua hal itu, persahabatan hanyalah
tempat persembunyian cinta belaka. Atau janganlah kita menyepelekan arti
sahabat, yaitu dengan mudahnya menganggap orang lain sahabat, orang-orang yang
baru hanya kita pandang dari satu atau dua sisi, pribadi-pribadi yang
sebetulnya belum kita anugerahkan rasa percaya.
Di dalam persahabatan lawan jenis, yang udah-udah, pasti salah satu
ada yang memendam perasaan. Atau adakah keduanya memiliki gairah untuk
menyelami diri sendiri dan menemukan suatu rasa yang telah lama terabaikan?
Atau jangan-jangan, dua-duanya saling cinta, namun keduanya sama-sama tidak
merasa penting untuk mewujudkan cinta. Pernahkah ada di antara lo yang
mengalami pengalaman asmara dengan seorang sahabat? Pernahkah lo mengakui
perasaan kepada sahabat lo? Pernahkah lo mendengar pengakuan perasaan dari
sahabat lo? Atau pernahkah lo terpikir untuk membahas ini? Jangan bilang, itu
semua tidak pernah terjadi, dan terungkapkan! Bila benar adanya itu semua belum
lo alami dan lewati, maka janganlah bilang lo bersahabat dengan lawan jenis lo.
Cukup katakanlah saja dia teman dekat, teman seru-seruan, teman bercerita,
teman pulang kerja, atau maaf, teman bercinta. Sekali lagi gue ingatkan, bahwa
sahabat melebihi itu semua. Dengan ini gue sarankan, milikilah keberanian untuk
menyampaikan pengakuan, atau setidaknya bertanya. Bukankah sahabat adalah ia
yang tahu diri kita luar dan dalam? Bukankah sahabat adalah ia yang paling
ingin mengerti perasaan kita? Bukankah kita tidak perlu merasa takut untuk
jatuh cinta kepada sahabat kita sendiri? Bukankah menjadi seorang sahabat
sekaligus kekasih adalah keberuntungan? Silakan direnungkan.
Ya gue kira itu aja yang bisa gue bagikan dari menjadi seorang lelaki
yang sotoy. Buat kalian yang dari membaca artikel ini mendapatkan pencerahan
untuk menantang sahabatnya sendiri berjalan menuju hari yang bahagia, misalnya
pernikahan? Baiklah, menikahlah!
Okelah kalo begitu, terima kasih buat yang menyempatkan diri membaca. Terima
kasih atas waktunya. Sampai bertemu di tulisan gue yang lain, kesotoyan gue
yang selanjutnya. Salam pencinta kata! Mmmuaahhhh!!
by zarry hendrik